PT GAUNG NUSRA MEDIA AMANAH

Festival Ai Mangkung Rawat Alam dan Budaya

Bupati Sumbawa, Ir H Syarafuddin Jarot MP, membuka Festival Ai Mangkung di Kecamatan Buer, Kamis (17/6).

E
Penulis Editor
Tanggal 21 Sep 2026, 13:10 WITA
 Festival Ai Mangkung Rawat Alam dan Budaya
Buka Festival Ai Mangkung di Buer, Bupati Sumbawa Perkuat Tradisi Kelestarian Alam lewat Program Sumbawa Hijau Lestari

Sumbawa Besar, GaungNUSRA

Bupati Sumbawa, Ir H Syarafuddin Jarot MP, membuka Festival Ai Mangkung di Kecamatan Buer, Kamis (17/6). Festival tersebut mengangkat legenda Sungai Ai Mangkung, sekaligus memperkuat pesan tentang pentingnya menjaga kelestarian alam dan budaya secara bersamaan.

Bupati membuka festival didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Sumbawa. Masyarakat Buer ikut memeriahkan kegiatan tersebut dengan berbagai pertunjukan seni dan budaya yang mengangkat kisah serta legenda Ai Mangkung.

Camat Buer, Sri Sastra Dewi SPd, mengatakan Festival Ai Mangkung lahir dari legenda sungai yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat Buer. Masyarakat setempat mewariskan kisah tersebut dari generasi ke generasi sebagai bagian dari identitas dan kearifan lokal.

Menurut Sri, masyarakat juga memaknai air sebagai sumber kehidupan. Karena itu, festival tidak sekadar menghadirkan hiburan dan pertunjukan seni, tetapi membawa pesan tentang tanggung jawab masyarakat dalam menjaga sumber air dan lingkungan.

“Festival ini terinspirasi dari legenda Sungai Ai Mangkung yang hidup di tengah masyarakat Buer. Filosofinya, air merupakan sumber kehidupan yang harus kita jaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.

Panitia menghadirkan beragam atraksi budaya dalam festival tersebut. Sejumlah kelompok seni menampilkan tarian tradisional, sakeco, serta pertunjukan sanggar seni yang mengangkat kisah dan legenda Ai Mangkung.

Penampilan tersebut menarik perhatian masyarakat yang hadir. Para pelaku seni memanfaatkan panggung festival untuk memperkenalkan kembali cerita lokal yang selama ini berkembang di tengah masyarakat.

Bupati Sumbawa, Ir H Syarafuddin Jarot, mengatakan kegiatan budaya seperti Festival Ai Mangkung memiliki peran penting dalam memperkuat identitas Tau Samawa di tengah perubahan zaman.

Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya mengingat cerita yang diwariskan leluhur. Masyarakat juga perlu memahami nilai yang terkandung dalam setiap cerita dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Ini bukan hanya tentang kisah aliran sungai yang memberi kehidupan, tetapi juga tentang bagaimana kita diingatkan bahwa alam dan air harus terus dijaga dan dilestarikan, beriringan dengan pelestarian adat dan budaya leluhur,” ujar Bupati.

Ia menilai hubungan antara alam dan budaya tidak dapat dipisahkan. Berbagai tradisi masyarakat Sumbawa tumbuh dari interaksi manusia dengan lingkungan sekitarnya. Karena itu, upaya menjaga kebudayaan juga perlu berjalan bersama dengan upaya menjaga sumber daya alam.

Bupati mengatakan, pesan tersebut sejalan dengan program Sumbawa Hijau Lestari yang terus didorong Pemerintah Kabupaten Sumbawa. Program tersebut menempatkan kelestarian hutan dan sumber air sebagai bagian penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Semangat menjaga alam ini sejalan dengan program Sumbawa Hijau Lestari yang terus kita galakkan,” katanya.

Selain mengangkat isu lingkungan, Bupati melihat festival tersebut sebagai ruang untuk menghidupkan kembali peran desa dalam pengembangan kebudayaan. Menurutnya, desa memiliki kekayaan tradisi yang dapat menjadi sumber pengembangan seni dan budaya daerah.

Ia mengatakan desa bukan hanya menjadi tempat masyarakat menjalankan aktivitas sosial dan ekonomi. Desa juga menyimpan berbagai cerita, tradisi, kesenian, serta kearifan lokal yang dapat menjadi bagian dari identitas Sumbawa.

Karena itu, pemerintah daerah mendorong masyarakat dan generasi muda untuk terlibat dalam berbagai kegiatan kebudayaan. Keterlibatan generasi muda dinilai penting agar cerita dan tradisi lokal tetap dikenal serta mendapat ruang dalam perkembangan zaman.

Festival Ai Mangkung menghadirkan ruang tersebut melalui pertunjukan seni, cerita legenda, dan keterlibatan masyarakat Buer dalam kegiatan budaya. (Gad/Hms)



Bagikan Berita Ini: